ABANDA Herman telah menjelma menjadi idola baru para bobotoh Persib Bandung. Meski wajahnya garang, tapi rupanya Abanda berhati lembut. Bahkan, pria asal Kamerun ini termasuk orang yang humoris.
Masuknya Abanda pada putaran kedua Liga Super Indonesia (LSI) 2010/2011 menjadi angin segar bagi Maung Bandung. Sebab, lini pertahanan selalu menjadi sorotan tajam karena performa yang jauh dari harapan. Untungnya, Abanda datang pada waktu yang tepat.
Namun, Abanda menyesal karena musim ini Persib tampil berantakan, terutama pada putaran pertama. Ia pun berambisi memperbaikinya pada musim depan. Makanya, ia berharap tetap bisa berkostum biru Persib musim depan.
Rupanya, Abanda tidak main-main. Bahkan, ia ingin pensiun dalam sepakbola di Kota Kembang. Lalu, bagaimana harapan dan ambisi Abanda? Simak wawancara khusus persibholic.com bersama bek tangguh milik Persib ini.
Persibholic (P): Apa yang Abanda lihat dari Persib
Abanda Herman (AH): Wow, saya lihat Persib adalah tim yang luar biasa. Semuanya sempurna di sini. Mulai dari penonton, sponsor sampai sejarah tim yang hebat. Pemainnya juga bagus-bagus. Tapi sayang kita belum beruntung musim ini.
P: Gimana soal bobotoh?
AH: Wah, disini bobotoh luar biasa. Bagusnya di Persib semua suporternya kompak dan jadi satu, tidak saling bermusuhan. Hebatnya, di jalan kita mau ke stadion saja, banyak bobotoh menunggu kita di pinggir jalan. Waw ini hanya ada di Persib, tidak di tim lain.
P: Apa perasaan Abanda setelah masuk ke Persib?
AH: Jujur saja, saya sempat kesal. Saya sebetulnya ingin ke Persib awal musim ini. Saya ke Persib waktu itu diminta Manajer (Umuh Muchtar). Saya diminta latihan karena Persib butuh pemain belakang. Lalu saya datang. Tapi ternyata, pelatih (Daniel Darko Janackovic) waktu itu bilang dia sudah punya pemain. Saya sempat marah dan kesal. Dia (Darko) bilang, "siapa suruh datang ke Persib?". Saya kesal dan saya pulang saja. Saya baru tahu ada pelatih seperti itu ya.
P: Terus Abanda main di Persema Malang. Tapi kenapa tidak ikut Persema ke LPI?
AH: Semua orang juga tahu kalau sepakbola tidak diterima FIFA itu sulit. Saya tidak mau berjudi dan akhirnya saya keluar dari Persema. Itu pun gaji saya tidak dibayar Persema. Tapi biarlah semua sudah terjadi.
P: Setelah itu siapa yang mengubungi Abanda untuk ke Persib?
AH: Masih tetap Pak Umuh yang telepon saya waktu saya di Kamerun. Saya langsung ke Bandung dan akhirnya masuk tanpa seleksi dulu.
P: Kenapa pilih nomor punggung 6? Apa tahu itu nomor 'keramat' di Persib?
AH: Awalnya saya dikasih daftar nomor punggung pemain. Saya sebetulnya ingin nomor 4 tapi sudah ada Wildansyah. Akhirnya saya pilih nomor 6 saja. Tidak lama kemudian, saya baru tahu kalau itu nomor milik Robby Darwis dulu. Saya kaget dan saya mau ganti tapi katanya tidak perlu. Tapi ternyata setelah saya main banyak yang bilang saya bagus. Saya senang karena akhirnya bisa pakai nomor keramat ini. Ini nomor legenda.
P: Bagaimana lini pertahanan Persib saat ini?
AH: Awalnya saat saya datang belum tahu karakter satu sama lain. Tapi tidak lama kita jadi langsung klop. Saya jadi tahu Maman, Nova hingga Wildan. Intinya lini belakang harus bagus komunikasinya. Soal taktik, mau itu pakai 3-5-2 atau 4-4-2 bukan masalah. Sebab kita yang buat taktik itu, bukan taktik yang mengatur kita. Kedepannya kita tinggal benahi kekurangan saja.
P: Abanda memang jago dalam sundulan? Apa karena tinggi badan?
AH: Memang dari dulu saya selalu melatih sundulan. Bukan hanya soal tinggi badan, tapi harus bisa memperhitungkan waktu dan posisi yang tepat.
P: Sewaktu lawan Persijap Jepara, Abanda melakukan sundulan bunuh diri. Apa perasaannya?
AH: Saya sangat sedih dan kesal. Kalau saya bisa memutar waktu, saya ingin semuanya bisa kembali. Saya sedih sekali setelah main karena kita harusnya bisa menang, bukan jadi imbang. Saya ada peluang lagi tapi ternyata tidak beruntung. Ini kesalahan besar saya.
P: Ada ritual khusus sebelum bertanding?
AH: Sebelum tidur, makan, bangun, latihan dan bertanding saya selalu berdoa. Itu saja ritualnya. Dan tentu saya harus jaga kondisi kapan pun itu.
P: Bagaimana Abanda melihat rivalitas pendukung Persib dan Persija?
AH: Saya empat musim di Persija Jakarta dan saya cukup tahu karakter The Jakmania. Sewaktu saya ke Persib saya tidak bicara kepada siapapun, karena saya memang profesional. Tapi orang Jakarta bilang saya tidak loyal. Padahal bukan karena itu, tapi karena saya butuh banyak pengalaman. Saya melihat Persib sebagai tim yang layak untuk saya bela saat ini.
P: Bagaimana Abanda melihat banyak faktor nonteknis dalam sepakbola Indonesia?
AH: Saya sangat kesal. Sepakbola kan harus fair play, tapi di lapangan kita sering dikerjai wasit. Ada wasit yang bagus tapi ada juga yang tidak. Ini harus dibenahi kalau sepakbola kita mau maju.
P: Abanda punya pacar?
AH: Dulu saya punya pacar orang Indonesia. Tapi kita putus. Sekarang mau cari lagi hehehe
P: Apa harapan Abanda bersama Persib?
AH: Saya ingin bawa Persib juara. Selama saya di Indonesia, saya belum pernah bawa tim saya juara. Semoga waktunya ada di Persib. Setelah itu saya ingin pensiun di Persib. (Raka Zaipul)
Masuknya Abanda pada putaran kedua Liga Super Indonesia (LSI) 2010/2011 menjadi angin segar bagi Maung Bandung. Sebab, lini pertahanan selalu menjadi sorotan tajam karena performa yang jauh dari harapan. Untungnya, Abanda datang pada waktu yang tepat.
Namun, Abanda menyesal karena musim ini Persib tampil berantakan, terutama pada putaran pertama. Ia pun berambisi memperbaikinya pada musim depan. Makanya, ia berharap tetap bisa berkostum biru Persib musim depan.
Rupanya, Abanda tidak main-main. Bahkan, ia ingin pensiun dalam sepakbola di Kota Kembang. Lalu, bagaimana harapan dan ambisi Abanda? Simak wawancara khusus persibholic.com bersama bek tangguh milik Persib ini.
Persibholic (P): Apa yang Abanda lihat dari Persib
Abanda Herman (AH): Wow, saya lihat Persib adalah tim yang luar biasa. Semuanya sempurna di sini. Mulai dari penonton, sponsor sampai sejarah tim yang hebat. Pemainnya juga bagus-bagus. Tapi sayang kita belum beruntung musim ini.
P: Gimana soal bobotoh?
AH: Wah, disini bobotoh luar biasa. Bagusnya di Persib semua suporternya kompak dan jadi satu, tidak saling bermusuhan. Hebatnya, di jalan kita mau ke stadion saja, banyak bobotoh menunggu kita di pinggir jalan. Waw ini hanya ada di Persib, tidak di tim lain.
P: Apa perasaan Abanda setelah masuk ke Persib?
AH: Jujur saja, saya sempat kesal. Saya sebetulnya ingin ke Persib awal musim ini. Saya ke Persib waktu itu diminta Manajer (Umuh Muchtar). Saya diminta latihan karena Persib butuh pemain belakang. Lalu saya datang. Tapi ternyata, pelatih (Daniel Darko Janackovic) waktu itu bilang dia sudah punya pemain. Saya sempat marah dan kesal. Dia (Darko) bilang, "siapa suruh datang ke Persib?". Saya kesal dan saya pulang saja. Saya baru tahu ada pelatih seperti itu ya.
P: Terus Abanda main di Persema Malang. Tapi kenapa tidak ikut Persema ke LPI?
AH: Semua orang juga tahu kalau sepakbola tidak diterima FIFA itu sulit. Saya tidak mau berjudi dan akhirnya saya keluar dari Persema. Itu pun gaji saya tidak dibayar Persema. Tapi biarlah semua sudah terjadi.
P: Setelah itu siapa yang mengubungi Abanda untuk ke Persib?
AH: Masih tetap Pak Umuh yang telepon saya waktu saya di Kamerun. Saya langsung ke Bandung dan akhirnya masuk tanpa seleksi dulu.
P: Kenapa pilih nomor punggung 6? Apa tahu itu nomor 'keramat' di Persib?
AH: Awalnya saya dikasih daftar nomor punggung pemain. Saya sebetulnya ingin nomor 4 tapi sudah ada Wildansyah. Akhirnya saya pilih nomor 6 saja. Tidak lama kemudian, saya baru tahu kalau itu nomor milik Robby Darwis dulu. Saya kaget dan saya mau ganti tapi katanya tidak perlu. Tapi ternyata setelah saya main banyak yang bilang saya bagus. Saya senang karena akhirnya bisa pakai nomor keramat ini. Ini nomor legenda.
P: Bagaimana lini pertahanan Persib saat ini?
AH: Awalnya saat saya datang belum tahu karakter satu sama lain. Tapi tidak lama kita jadi langsung klop. Saya jadi tahu Maman, Nova hingga Wildan. Intinya lini belakang harus bagus komunikasinya. Soal taktik, mau itu pakai 3-5-2 atau 4-4-2 bukan masalah. Sebab kita yang buat taktik itu, bukan taktik yang mengatur kita. Kedepannya kita tinggal benahi kekurangan saja.
P: Abanda memang jago dalam sundulan? Apa karena tinggi badan?
AH: Memang dari dulu saya selalu melatih sundulan. Bukan hanya soal tinggi badan, tapi harus bisa memperhitungkan waktu dan posisi yang tepat.
P: Sewaktu lawan Persijap Jepara, Abanda melakukan sundulan bunuh diri. Apa perasaannya?
AH: Saya sangat sedih dan kesal. Kalau saya bisa memutar waktu, saya ingin semuanya bisa kembali. Saya sedih sekali setelah main karena kita harusnya bisa menang, bukan jadi imbang. Saya ada peluang lagi tapi ternyata tidak beruntung. Ini kesalahan besar saya.
P: Ada ritual khusus sebelum bertanding?
AH: Sebelum tidur, makan, bangun, latihan dan bertanding saya selalu berdoa. Itu saja ritualnya. Dan tentu saya harus jaga kondisi kapan pun itu.
P: Bagaimana Abanda melihat rivalitas pendukung Persib dan Persija?
AH: Saya empat musim di Persija Jakarta dan saya cukup tahu karakter The Jakmania. Sewaktu saya ke Persib saya tidak bicara kepada siapapun, karena saya memang profesional. Tapi orang Jakarta bilang saya tidak loyal. Padahal bukan karena itu, tapi karena saya butuh banyak pengalaman. Saya melihat Persib sebagai tim yang layak untuk saya bela saat ini.
P: Bagaimana Abanda melihat banyak faktor nonteknis dalam sepakbola Indonesia?
AH: Saya sangat kesal. Sepakbola kan harus fair play, tapi di lapangan kita sering dikerjai wasit. Ada wasit yang bagus tapi ada juga yang tidak. Ini harus dibenahi kalau sepakbola kita mau maju.
P: Abanda punya pacar?
AH: Dulu saya punya pacar orang Indonesia. Tapi kita putus. Sekarang mau cari lagi hehehe
P: Apa harapan Abanda bersama Persib?
AH: Saya ingin bawa Persib juara. Selama saya di Indonesia, saya belum pernah bawa tim saya juara. Semoga waktunya ada di Persib. Setelah itu saya ingin pensiun di Persib. (Raka Zaipul)

